Begini Ceritanya Ngurus Sendiri Perpanjang Buku Pelaut

perpanjang buku pelaut
Buku pelaut

Hari itu, tepatnya tanggal 18 Nopember 2016, tidak seperti biasanya kami bangun lebih pagi. Bukan karena takut keduluan buka, sama toko sebelah atau takut rejeki dipatok ayam. Tapi pagi itu saya harus sudah berada di Syahbandar Tanjung Priok kurang dari jam10 pagi, untuk pengurusan buku pelaut yaitu perpanjang buku pelaut.

Info: Buku Pelaut adalah dokumen penting yang harus dimiliki oleh setiap awak kapal untuk pencatatan dan sinkronisasi dengan ijazah kompetensi.

Berangkaaaat!

Pagi itu saya dan istri berangkat menggunakan sepeda motor menuju Pondok Ungu, Bekasi. Kemudian saya akan melanjutkan ke Tanjung Priok dengan menggunakan ojek online.

“Mah tolong order gojek sayang”

Dan tidak lama kemudian, saya langsung naik gojek yang sudah dipesankan istri untuk mengantarkan saya ke kantor Syahbandar Tanjung Priok, Jakarta. Agar saya bisa datang tepat waktu disana.

Sesampainya di Syahbandar jam 08.15, ternyata sudah banyak sekali para pelaut yang berasal dari berbagai daerah berkumpul di Syahbandar Utama Tanjung Priok untuk mengurus buku pelaut mereka. Ada yang buat baru, perpanjangan, mengurus masa layar, penyijilan, dan lain-lain.

Bahkan diantara mereka ada yang datang kurang dari jam 07.00. Karena berdasarkan informasi dari bagian pendaftaran, bahwa pelayanan pengurusan buku pelaut online dibatasi hanya 100 pelaut saja. Sehingga agar bisa dilayani maka para pelaut harus datang lebih awal.

Untunglah, saat itu saya cuma mau perpanjang buku pelaut saya yang belum dionlinekan. Jadi, saya tidak perlu khawatir dengan pembatasan tersebut.

Tawar-menawar Perpanjang Buku Pelaut

“Bos, mau bikin buku pelaut baru?”

“Perpanjang Pak!”

“Sama saya aja, nanti bos gak usah ngantri, duduk aja disini biar saya yang urus. Tau jadi dah”

“Ooh gitu ya?”(pasang muka mlongo…), emangnya urus begitu berapa ongkosnya ya Pak?”

“Mahal sekarang mah. Ya…. 250 lah, atau bos bisa liat dulu aja ke dalam, nanti kalo perlu bantuan, saya ada disini”

“Ooooh gitu ya? (Kali ini gak mlongo lagi, tapi mlotot kaget), oke deh Pak, saya ke dalam dulu ya”

Itulah sekelumit percakapan pemanasan saya dengan abang ojek yang menawarkan jasa lebih tepatnya nyalo.

Dari percakapan itu saya menyadari, bahkan lebih tepatnya bersyukur. Karena para calo yang biasa beroperasi di instansi-instansi pemerintah, sudah mulai kesusahan untuk dapat akses kearah sana. Asalkan kita juga ikut andil bersama para pejabat pemerintah dalam memberantas pungli.

Bagaimana BrooGO, setuju?

Perpanjangan Buku Pelaut

Setelah melakukan pendaftaran di tenda yang sudah disediakan petugas kesyahbandaraan. Saya masukkan buku pelaut lama kedalam map yang diberikan oleh petugas tersebut. Dan ternyata, untuk perpanjangan buku pelaut biayanya sebesar Rp.10.000 saja. Berbeda jauh dengan yang ditawarkan Abang Ojek diluar sana.

Berikut adalah yang saya lakukan saat perpanjangan buku pelaut di Syahbandar Tanjung Priok:

  • Datang ke petugas yang ada di tenda (bilang mau perpanjang buku pelaut, jangan diam saja nanti gak dilayani)
  • Petugas akan memberikan map biru
  • Tulis data yang diperlukan pada map tersebut. Seperti: Nama dan Nomor Buku Pelaut
  • Masukkan Buku Pelaut lama yag akan diperpanjang ke dalam map
  • Serahkan ke petugas Syahbandar di loket 1
  • Kemudian petugas di loket 1 akan memberikan bukti tagihan pembayaran perpanjangan Buku Pelaut
  • Bayar tagihan ke BNI sebesar Rp10.000 (masih di ruangan yang sama, ada di pojok kiri)
  • Serahkan bukti pembayarannya ke loket 1.
  • Setelah bukti pembayaran tersebut distempel, kemudian akan diserahkan kembali kepada pelaut.

Bukti pembayaran tersebutlah yang akan digunakan untuk pengambilan buku pelaut yang sudah diperpanjang. Biasanya proses perpanjang buku pelaut membutuhkan dua hari.

Info: syarat untuk perpanjang buku pelaut adalah buku pelaut lama yang akan diperpanjang.

Nge-Ojek Online Seru

Begitu urusan saya di Syahbandar selesai. Saya tidak langsung pulang ke Bekasi. Kenapa? Karena hari itu adalah hari Jumat. Jadi, sebagai pelaut reliji, ciee, saya harus memenuhi panggilan adzan untuk menunaikan ibadah shalat Jumat di Masjid Al-furqon, tidak jauh dari kantor Syahbandar Tanjung Priok, Jakarta.

Buku Pelaut sudah beres, Shalat Jumat, Alhamdulillah, perut juga kenyang. Time to go home.

Tidak lama kemudian Abang Gojek datang. “Bekasi ya Pak, jalan Sultan Agung Kranji”

Saya pun langsung naik gojek, berharap bisa sampai di Bekasi sebelum magrib. Karena seperti biasanya, saya harus menjemput istri saya.

Belum lama kami keluar dari Pelabuhan Tanjung Priok, tiba-tiba sesuatu terjadi sama kami, tepatnya motor Bang Gojek.

“Lah lah, ada apa ini, kenapa gak enak gini bawa motornya? Udah mah diklaksonin mulu sama mobil kontainer”.

“Maaf mas kayanya ban nya kempes deh”

Tepok jidat dah ach!

Lalu kami pun minggir. Benar saja bannya bocor, mudah-mudahan sih tidak terkena ranjau jalanan, yang ditebar secara sengaja oleh orang yang tidak bertanggung jawab, demi mendapatkan pasien.

“Waduh, bagaimana ini? Bisa-bisa sampainya magrib kalo gini mah. Ywdh Pak, silahkan tambal dulu aja bannya. Biar saya jalan kaki dari sini kedepan”.

Daripada kesal akibat kejadian tersebut, ada baiknya kalau saya selfi saja. Kan tidak semua orang, meski tiap hari melewati jalan ini, mereka bisa mengeluarkan keringat karena capai jalan kaki dan kepanasan. Pikir saya.

Nambah lagi di galery foto buat pameran tahun depan.

Perpanjang buku pelaut
selfi untuk ngilangin lelah

Dibawa ke Polsek Koja

Lumayan lama juga saya di kantor Polsek Koja. Eits, disana saya bukan ditangkap karena tidak mempunyai SIM atau melanggar lalu lintas. Apalagi terkena kasus penistaan agama, Naudzubillahi min dzalik. Tapi saya setia sama Abang Gojek. Rasanya tidak enak hati kalau saya harus cancel, hanya karena tidak mau menunggu Abangnya tambal ban.

“kasihan lah, dia juga lagi mencari nafkah untuk keluarganya” (ngomong dalam hati).

Setuju gak, BrooGO?

Jadi, sambil melepas lelah setelah jalan kaki, dan menunggu tambal ban selesai, saya nongkrong di Polsek Koja.

15 menit kemudian

Begitu urusan di bengkel selesai, kami berangkat lagi setelah saling telepon. Layaknya sepasang kekasih yang terpisah dikeramaian karena tidak pakai baju couple atau keluarga pengantin yang tertinggal rombongan besan karena terjebak macet.

Debate On The Road

Bukanlah Jakarta kalau tidak disesaki oleh kendaraan bermotor, baik roda dua maupun lebih. Bukan pula warga Jakarta dan sekitarnya seandainya tidak pernah merasakan kemacetan yang luar biasa. Sehingga aksi saling salip merupakan hal yang wajar dalam kondisi seperti itu, selama memperhatikan keselamatan sendiri juga orang lain.

Namun perlu diketahui bersama, bahwa tidak ada seorangpun tahu apa yang akan terjadi saat berada dijalanan.

Benar, kan? Ini buktinya.

Gubrak!

“Yang bener dong kalo bawa motor”

Tanpa begitu memerdulikan sumber suara dan keluar dari mulut rombeng siapa. Saya ambil tas saya yang terjatuh gara-gara insiden tersebut. Sambil berusaha mempertahankan motor agar tidak terbaring seperti pasien rumah sakit. Kemudian saya tengok sebelah kanan, saya lihat sesosok tubuh kerempeng berdiri tepat disamping saya. Ya, dialah pemuda sableng yang sudah menyerempet kami dan marah-marah.

“Perasaan saya deh yang dirugiin, saya kan penumpang, eh malah saya yang kena semprot, dasar semprul tuh orang”. Dalam hati saya terus menggerutu tu tu.

Dengan semangat juang juga perasaan tidak bersalah serta dukungan dari beberapa pengguna jalan. Saya melawan dan membalas kicauan burung latah, pemuda kerempeng kurang gizi itu.

“Eh elo yang ngebut, sudah tau macet, nabrak, marah, idup lagi”

Kemudian kami pun meninggalkan pemuda itu dalam keadaan bengong. Diperjalanan bertemu dia lagi, melototin saya lagi. Saya buka kaca helm yang sudah pudar sampai pusing neh kepala. Sepertinya sih Bang Gojek tidak pernah membersihkannya.

”Eh Elo yang ngebut”.

Akhirnya dia mengibarkan bendera putih, pertanda kalau dia menyerah tanpa syarat. Dan kami pun pergi meninggalkan pemuda yang cuma bisa melongo dengan pede nya.

Mau tahu apa yang aneh dengan kejadian itu?

Iya Broo, bukannya emosi atau apalah karena motornya diserempet. Ehh ini mah tenang-tenang aja. Ngomong aja gak tuh Abang Gojek nya. Kan bikin gregetan, kesel, gado-gado dah, iya kan?

Meskipun begitu saya tetap berterima kasih, karena sudah mengantar saya sampai di tempat tujuan bersama-sama dengan si ‘selamat’.

Simpulan :

Mengurus perpanjang buku pelaut ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Bahkan bisa dilakukan sendiri dengan cara datang langsung ke syahbandar terdekat.

Persyaratan yang diperlukan adalah buku pelaut yang akan diperpanjang.

Biaya untuk mengurus perpanjang buku pelaut cuma Rp. 10.000 saja.

Jadi, apa yang bisa BrooGO ambil pelajaran dari semua kejadian yang saya alami saat perpanjang buku pelaut?

Gak ada? (Tepok jidat lagi)

Tulisan Pelaut GO lainnya

11 Komentar

    1. Terima kasih sudah mampir ke blog pelautgo.
      BrooGO Okky bisa lihat tanggal berlaku di buku pelaut BrooGO sendiri.

      Semoga membantu.

  1. jika ingin perpanjang buku pelaut yang belum online,dan ingin merubah nya agar online,..apakah sama syaratnya dengan membuat buku pelaut baru?…
    terima kasih sebelumnya..

    1. Syaratnya sama Broo. Silahkan datang langsung ke Syahbandar.

      Semoga membantu ya. Jangan lupa kalau sudah jadi buku pelautnya bisa berbagi info disini.

  2. Saya punya medical record Petronas approved yg masih berlaku. Apa bisa dipakai sebagai persyaratan untuk buku pelaut online?. Kebetulan juga buku lama sudah habis/tidak bisa diperpanjang lagi. Mohon sarannya admin.

    1. Selama masih berlaku dan termasuk kedalam salah satu rumah sakit yang direkomendasi untuk pembuatan buku pelaut. Maka bisa digunakan Broo.

      Semoga membantu ya.

  3. Bang…. W kan ngelamar kerja di PT pelayaran yah… Untuk Revalidasi BST yg di proses kantor biasanya berapa lama sih yah.. untuk Kantor Pt pelayaran yg mengurus semua Dokumen yg Revalidasi/ perpanjangan emang makan waktu berapa lama yah…?? Tolong pencerahannya bang..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *